menurutmu mengapa keberagaman di indonesia menjadi kekayaan sekaligus tantangan
Keberagamanbudaya di Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi geografis yang ada. Dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 200 juta orang lebih, penduduk Indonesia tersebar di masing-masing pulau dan mempunyai ciri khas budayanya sendiri. Warisan budaya yang berkembang di Indonesia, berasal dari berbagai macam etnis, suku, dan bahasa di
Emilsapaannya mengatakan, kehadirannya di Vihara Samudra Bhakti merupakan simbol dari semangat Pancasila yang harus hadir di Jawa Barat provinsi dengan penduduk mencapai hampir 50 juta jiwa. "Karena kita bisa menjadi bangsa besar karena bisa menanggapi perbedaan dan keberagaman menjadi kekayaan Indonesia," tutur Emil, dalam keterangan yang
Mengapakeberagaman di Indonesia menjadi kekayaan sekaligus tantangan Iklan Jawaban 4.4 /5 80 mnfar Jawaban: karena dengan keberagaman menjafikan daya tarik bagi wisatawan utuk melihat pesona adat istiadat yang ada di indonesia Sedang mencari solusi jawaban B. Indonesia beserta langkah-langkahnya? Pilih kelas untuk menemukan buku sekolah Kelas 5
Syairlagu tersebut menggambarkan bahwa menjadi anak Indonesia, dengan segala keanekaragaman dan kesatuan yang ada di dalamnya, menjadi kebanggaan tersendiri. Rasa bangga merupakan sikap syukur seseorang atas karunia Allah, yang menganugerahkan kekayaan alam, keanekaragaman suku, agama, budaya dan adat istiadat.
Keberagamanras penduduk di Indonesia, setidaknya dapat dikelompokkan menjadi : Ras Malayan-Mongoloid di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, dan Sulawesi. Ras Melanesoid di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Ras Asiatic Mongoloid seperti orang China, Jepang, dan Korea yang tersebar di seluruh Indonesia.
Site De Rencontre Dans Le Monde Entier. Jakarta - Wakil Ketua MPR, EE Mangindaan mengatakan tantangan bangsa Indonesia saat ini adalah menjaga persatuan dari keragaman bangsa Indonesia. "Tantangan bangsa Indonesia saat ini bukan melawan penjajah atau pemberontak, juga bukan melawan kelompok yang ingin mengubah ideologi negara," kata EE Mangindaan ketika menjadi pembicara utama pada seminar "Merawat Kebhinnekaan dalam Meneguhkan Ke-Indonesiaan" di Jakarta, Sabtu, seperti dikutip melalui siaran pers Humas MPR. Menurut Mangindaan, bangsa Indonesia sangat beragam baik suku, agama, ras, antargologan, maupun budaya, dan latar belakang daerah. Bangsa Indonesia yang beragam dan saat ini jumlahnya mencapai 250 juta jiwa, tersebar dari Sabang sampai Merauke ini, menjadi satu Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI. "Terus tumbuhnya penduduk Indonesia dan beragam ini yang menjadi tantangan Indonesia, yakni memelihara persatuan dalam keragaman," katanya. Menurut Mangindaan, bangsa Indonesia membutuhkan kebersamaan dan persatuan dalam menghadapi dinamika masyarakat, sehingga diperlukan kesadaran dan komitmen bersama untuk saling menghormati kemajemukan bangsa. Konstruksi ke-Indonesia-an, menurut dia, pada dasarnya terbangun dari ruh dan elemen-elemen masyarakat yang heterogen, baik suku, agama, budaya, bahasa, maupun alamnya. Menurut dia, para pendiri bangsa sangat menyadari bahwa kebijakan harus selalu didasarkan pada prinsip demokrasi yang berbasis kebinekaan. "Keberagaman karakteristik suku, agama, latar belakang daerah, dan budaya, tidak menjadi penghalang bagi pendiri bangsa untuk menetapkan pilihannya pada bentuk negara kesatuan," paparnya. Berdirinya NKRI, kata Mangindaan, melalui perjuangan dengan berbagai peristiwa dan catatan sejarah. "Jangan pernah melupakan sejarah. Pesan itulah yang harus kita pahami dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Sejarah bangsa jangan sampai dilupakan," imbuhnya. Politisi Partai Demokrat ini menambahkan pengalaman masa lalu mengajarkan bahwa bangsa Indonesia perlu menjadikan keberagaman dan segala perbedaan guna mempererat ikatan kebangsaan yang kerap rapuh. Sumber ANTARA Saksikan live streaming program-program BTV di sini
- Indonesia adalah negara yang besar. Sebab, di dalamnya terdapat berbagai macam perbedaan akibat dari kondisi kewilayahan, suku bangsa, budaya, agama dan adat istiadat. Tentunya, keberagaman itu dirangkai dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika tertulis pada lambang negara Indonesia yaitu Garuda laman Ayo Guru Berbagi Kemendikbud Ristek, arti dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Sedangkan makna Bhinneka Tunggal Ika adalah meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan. Semboyan ini menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku bangsa, budaya, bahasa daerah, agama dan kepercayaan, ras maupun antargolongan. Baca juga Siswa, Ini Arti Bhinneka Tunggal Ika Faktor penyebab keberagaman Indonesia Keberagaman di Indonesia dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu Letak strategis wilayah Indonesia Kondisi negara kepulauan Perbedaan kondisi alam Keadaan transportasi dan komunikasi Penerimaan masyarakat terhadap perubahan Tentunya, keberagaman masyarakat Indonesia memiliki dampak positif sekaligus dampak negatif bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Dampak positif, keberagaman memberikan manfaat bagi perkembangan dan kemajuan. Namun dampak negatifnya mengakibatkan ketidakharmonisan bahkan perpecahan bangsa dan negara. Keberagaman suku di Indonesia Merujuk pada sensus penduduk oleh Badan Pusat Statistik BPS pada 2010, Indonesia memiliki sekitar suku bangsa. Suku Jawa yang berasal dari Pulau Jawa bagian tengah hingga timur sebagai kelompok suku terbesar dengan populasi sebanyak 85,2 juta jiwa atau sekitar 40,2 persen dari populasi penduduk Indonesia. Suku bangsa terbesar kedua adalah Suku Sunda yang berasal dari Pulau Jawa bagian barat dengan jumlah mencapai 36,7 juta juwa atau 15,5 persen. Baca juga Siswa, Ini Daftar Suku di Indonesia
Jakarta, – Indonesia merupakan bangsa besar yang terdiri dari beragam suku, agama, bahasa, dan adat istiadat. Data Sensus Badan Pusat Statistik Tahun 2010 mencatat, terdapat jumlah suku di Indonesia. Oleh karena itu, keberagaman yang besar tersebut harus terus dirawat dan dijadikan sebagai potensi dalam mendukung pembangunan nasional. “Tentu keberagaman tersebut harus kita rawat dan dijadikan sebagai potensi kekuatan agar bangsa Indonesia dapat tetap utuh dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia, utamanya dalam mencapai kemajuan di berbagai bidang,” tutur Wakil Presiden Wapres K. H. Ma’ruf Amin pada acara Perayaan Hari Ulang Tahun ke-14 Punguan Simbolon dohot Boruna Indonesia PSBI, Rakernas PSBI Tahun 2021, serta Launching Kongres PSBI IV dan Pesta Bolon Simbolon Tahun 2022 melalui konferensi video di Kediaman Resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Rabu 07/07/2021. Lebih lanjut Wapres menyampaikan, sebagai salah satu suku dengan jumlah yang cukup besar dan melihat sebaran jumlah anggota PSBI yang lebih dari orang di seluruh dunia, maka PSBI memiliki potensi besar yang harus diberdayakan untuk melestarikan nilai-nilai adat sekaligus upaya penanaman rasa cinta tanah air. Mengingat, kedua nilai tersebut merupakan faktor penting dalam membentuk integritas nasional. “Pelestarian adat istiadat juga harus menjadi bagian dari upaya kita merawat demokrasi dan memupuk nasionalisme pada tingkat akar rumput guna mewujudkan integritas nasional yang makin kokoh dalam bingkai kebhinekaan bangsa. Hal ini sangat penting untuk terus kita wariskan khususnya bagi generasi muda,” tegas Wapres. Pada kesempatan ini Wapres menekankan pentingnya menjaga kesepakatan nasional sebagai dasar kebangsaan dan kenegaraan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pendiri bangsa melalui 4 empat bingkai kerukunan nasional, yaitu; bingkai politis, bingkai yuridis, bingkai teologis, dan bingkai sosiologis. Bingkai politis, menurut Wapres, yaitu kerukunan yang dibangun atas dasar komitmen seluruh bangsa Indonesia dalam implementasi kehidupan masyarakat sesuai dengan kesepakatan nasional, yaitu; Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara bingkai yuridis, merupakan kepatuhan masyarakat terhadap aturan hukum yang ada. “Kepatuhan terhadap aturan yang ada dengan cara menghormati hukum, karena setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum,” urai Wapres. Sedangkan bingkai teologis, lanjutnya, yaitu pemahaman dan pengajaran keagamaan atau keyakinan yang moderat sehingga tidak menimbulkan konflik nasional. “santun, sejuk, dan merangkul, bukan ajaran yang saling curiga dan mengarah pada konflik atau bahkan pada penggunaan kekerasan,” terang Wapres. Yang terakhir, bingkai sosiologis, Wapres menuturkan pentingnya kearifan nilai-nilai budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun menjadi perekat kebersamaan. “nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan secara turun temurun ini, seperti; Dalihan Na Tolu pada masyarakat Batak, Tepo Seliro dan Gotong Royong pada masyarakat Jawa, Pela Gandong pada masyarakat Ambon, Rumah Betang pada masyarakat Dayak, dan kearifan serupa dari berbagai daerah lainnya,” urai Wapres. “Nilai-nilai positif dari berbagai kearifan lokal nusantara, seperti yang terkandung dalam Dalihan Na Tolu ini dan juga pada adat istiadat yang lainnya seperti saya sebutkan di atas, merupakan pondasi serta perekat kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia yang perlu terus kita sosialisasikan, lestarikan, kembangkan, dan berdayakan,” tambahnya. Selama 14 tahun PSBI ini berdiri dengan 150 cabang di seluruh Indonesia, bukanlah hal waktu yang singkat. Wapres berharap bingkai kerukunan yang selama ini dibangun PSBI dapat terus digalakkan. “Generasi muda khususnya dari keluarga Simbolon agar menjadi teladan dan pelopor loyalitas dan nasionalisme untuk Indonesia, bukan hanya untuk kelompok atau golongan tertentu,” harap Wapres. Menutup sambutannya, Wapres berpesan agar PSBI dan seluruh organisasi kemasyarakatan yang berbasis kekerabatan atau kesukuan untuk tidak berorientasi pada kegiatan yang bersifat eksklusif, tetapi lebih berorientasi inklusif. “Semoga PSBI mampu memberi kesejahteraan bagi anggotanya maupun masyarakat Indonesia pada umumnya, serta mampu melestarikan warisan nilai-nilai masyarakat adat Batak dalam kerangka menjaga persatuan nasional,” pesan Wapres. Sebelumnya Ketua Umum PSBI, Effendi Simbolon, melaporkan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-14 PSBI. Selain itu, ia juga menyampaikan dukungan PSBI kepada pemerintah dalam menangani pandemi Corona Virus Disease 2019 Covid-19 beserta dampaknya. “Kami sangat berharap pemerintah tetap kuat dan senantiasa mampu untuk menangani masalah pandemi Covid-19 ini, kami percaya Bapak Wakil Presiden bersama Bapak Presiden Joko Widodo akan dapat mengatasinya dan bersama dengan komponen masyarakat lainnya untuk kita bisa keluar dari masa yang sangat sulit ini,” ungkap Effendi. Hadir secara virtual dalam acara ini para Pengurus Ppusat PSBI, Pengurus Wilayah PSBI, serta Pengurus INA PSBI. Sementara hadir mendampingi Wapres, Kepala Sekretariat Wapres Mohamad Oemar dan Staf Khusus Wapres Masduki Baidlowi. NN/AS, BPMI-Setwapres
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Keberagaman merupakan realitas yang tidak dapat dikesampingkan dalam kehidupan manusia. Keberagaman tidak melulu menyangkut konteks sosial budaya, melainkan juga persoalan agama atau kepercayaan, dan banyak aspek lainnya. Terkait aspek agama, keberagaman tidak sekadar membicarakan mengenai jumlah dan macam-macam agama, seperti agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, maupun Konghucu saja. Keberagaman dalam konteks agama memiliki makna yang luas. Lebih lanjut, sejarah keberagaman dalam konteks agama, dalam hal ini adalah agama Islam sudah ada sejak munculnya aliran-aliran teologi Islam, setelah Rasullulah saw. wafat., seperti munculnya aliran Mu'tazilah, Qadariyah dan Jabariyah, Khawarij, Syiah, Murji'ah, asy'ariyah dan Maturidiyah, serta banyak aliran lainnya dengan pemikiran dan pedoman yang berbeda-beda dalam memahami konsep ketuhanan. Di Indonesia, keberagaman aliran teologi Islam diterima oleh masyarakat, mengingat konsep keberagaman dan/ kemajemukan telah mengakar kuat dan hidup di tengah-tengah masyarakat, walaupun tetap menuai beberapa kontra yang saling menentang. Keberagaman semacam ini tentu bukanlah persoalan yang mudah untuk disikapi, apalagi persoalan yang menyangkut agama. Pasalnya, adanya keberagaman di Indonesia, berpotensi munculnya masalah baru. Hal ini serupa yang dikatakan Abdillah, bahwa kemajemukan masyarakat Indonesia memiliki potensi bagi munculnya konflik atas nama suku, ras, dan agama Abdillah, 2019 52. Konflik-konflik yang timbul dengan mengatasnamakan suku, ras, dan agama akan berakibat fatal dan memecah belah persatuan bangsa Indonesia, bahkan sampai terjadi pertumpahan darah. Jika kita mau menilik lebih jauh mengenai sejarah Indonesia, konflik tersebut sebenarnya sudah pernah terjadi, seperti pada masa pembangunan orde baru, yakni konflik yang terjadi antar golongan yang memiliki perbedaan paham terkait kebijakan rezim Abdurrahman Wahid, tepatnya ketika munculnya kelas-kelas menengah baru yang mendukung maraknya kegiatan keagamaan. Tidak hanya itu, konflik terkait agama ini, juga dapat menimbulkan perang, memunculkan terorisme, dan yang timbul seperti yang telah disinggung sebelumnya, baik sementara maupun berkelanjutan tentu akan membawa dampak yang besar terhadap lini-lini kehidupan. Persatuan masyarakat Indonesia akan tergerus, dan tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan terjadinya perang dingin dalam satu negara. Hal-hal semacam ini tentu memprihatinkan. Untuk menghindari hal-hal negatif semacam ini, dibutuhkan sikap terbuka dan menghargai sebuah perbedaan. Selain itu, mengakui adanya keberagaman dan/ kemajemukan dalam hal sosial, budaya, terutama agama merupakan cara terbaik sebagai upaya menjaga keharmonisan antar masyarakat. Kondisi masyarakat yang beragam menuntut manusia agar dapat hidup dan menjalani kehidupan dengan bijaksana Siti Rohmah, dkk., 2020 128. Dengan kata lain, sebagai orang yang hidup di Indonesia, kita harus senantiasa menerima realitas bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
terjawab • terverifikasi oleh ahli Keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang maha esa kepada kita, yang memberikan dampak positif dan bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan bangsa, sekaligus tantangan yang dapat mengakibatkan ketidakharmonisan bahkan kehancuran bangsa dan negara
menurutmu mengapa keberagaman di indonesia menjadi kekayaan sekaligus tantangan